Sabtu, 16 November 2019

judul

" Kaulah bintangku, kaulah cahaya hidupku, kaulah energi yang kekal yang membuatku tidak kenal lelah, walau hanya melihat senyummu. Aku kira senyum itu untukku, ternyata senyummu untuk semua orang, kaulah bintang dunia. Rambutmu kau ikat di belakang, tidak ada make up, tidak ada kimia apapun di wajahmu, tapi kau lebih cantik dari bintang sinetron manapun. Imelda Yanti namamu, hanya menulis namamu di atas tanah tempatku berladang saja, aku bagaikan susah memelukmu, seolah kau yang duduk di gubuk memberiku semangat mengolah lahan pertanian orang tuaku. Entah sudah berapa banyak video mimpiku yang berbintangkan dirimu. Aku bahkan tidak tega membayangkan kau dalam onanimu, karena bagiku kau cinta sejatiku, bukan objek nafsuku.

Dunia serasa runtuh ketika aku mendengar ibu yang melahirkanku buru - buru bergerak menuju rumahmu, acara adat lamaran katanya. " Siapa mak? itu si Melda di lamar orang kota, aku diam mematung tidak mampu merespon mamak yang beranjak pergi, sambil berkata " makan kau Joni, makanya menikah biar ada yang masak untuk kau, " kata - kata mamakpun tidak bisa aku jawab, karena masih mematung, bukan mematung seperti temanku si Made orang Bali yang pandai membuat patung, ini aku sendiri yang seperti patung. Bisa dipastikan, ikan teri sambal dan daun singkong rebus masakan mamak tidak aku sentuh sama sekali. " Kenapa? kenapa? kenapa? orang lain yang melamar Melda? apakah aku tidak pantas? begitu tega dia menikah, melupakan kami pemuda - pemuda kampung Semangka mengidamkan kau. Aku pergi ke rumah Rahman temanku yang paling setia, " si,,,Melda menikah ya? kata Rahman yang tahu perasaanku, " Sudah kubilang, cepat lamar Melda sebelum di lamar orang, sekarang, tinggallah kau, dia akan di bawa orang. " Kita minum tuak aja Man, ajakku. " Hahahahaha....ayoklah kawan, semoga kau bisa melupakannya.

" Kau tahu siapa laki - laki itu Man?
" Tidak, katanya sih orang kaya dari kota.

" Mungkin karena dia kaya itu kali ya, Melda cepat menerima.
" Iya kayaknya, ini tuak kita sudah datang.

" Kalau Meldanya sih tidak matrealistis Jon, buktinya si Roni yang kaya di kampung kita melamar tidak juga dia ladeni. " Paling orang tuanya yang tergila gila sama orang kota Jon, tahu sendirilah, kampung kita kan miskin dan ketinggalan, makanya banyak orang kampung kita pergi kekota, bukan semata mata karena uang juga, tapi demi status sebagai " orang kota" padahal kalau mau rajin kerja di kampung kita juga bisa kaya. " Kau lihat saja, bagaimana orang kampung kita memperlakukan orang kota, bagai menyambut raja. " Padahal kata bapakku, di kota juga cuma kerja biasa aja, cuma gaji kecil, tapi karena berani keluar kampung, dia seolah lebih maju.
" Gruk,,,,ah yang pasti hatiku hancur Man, entah sampai kapan aku tersiksa begini?

" Cinta tidak selamanya memiliki kawan, kalau memang cintaku tulus? kau pasti bisa berbahagia untuknya, doakanlah dia bebahagia.
" Iyalah Man, semoga dia bahagia, kalau tidak bahagia pun, aku masih mau menerima jandanya.

" Hahahaha,,,kau memang benar - benar cinta mati ya Jon, menunggu jandanya saja kau mau.
" Iya Man. " Coba kau cari tahu ke kota mana orang itu akan membawa Melda?

" Untuk apa Jon?
" Aku mau merantau ke kota itu, biar dekat Melda Man.

" Terus?
" Aku lebih bahagia kalau bisa melihat dia Man.

" Melihat istri orang?
" Cuma melihat wajahnya saja Man.

" Aduh! gawat kau ini Jon, tapi terserah kaulah kawan, sebagai aku mendukung apapun yang kau jalani, cuma aku minta jangan kau ganggu rumah tangganya, sebagai teman aku tidak setuju Jon.
" Tidak Man, hanya ingin melihat wajahnya saja tidak lebih.

Melda masih pariban jauh dari Joni, yang berarti kalau bapaknya Melda berpesta? keluarga Joni yang jadi seksi sibuk. Begitu menurut aturan adatnya. Bagaiman beratnya perasaan Joni harus capek masak dan beres - beres segala keperluan pesta pernikahan Melda dengan pria pilihannya. 

Sabtu, 19 Oktober 2019

Surga kami

Saya tidaklah miskin, tidak pula kaya, tapi kami adalah masyarakat yang sangat beruntung, kami sangat bahagia. Karena kami saling menyayangi saling membantu di setiap masalah yang ada, yang miskin bekerja keras, ketika kekurangan uang akan segera dibantu oleh yang kaya. Semua masalah kami kerjakan bersama sama dengan penuh cinta dan iklas. Ketika rumah si miskin rusak, kami yang tidak punya uang membantu dengan tenaga, yang kaya membantu biaya. Ibu - ibu menyiapkan segala makanan yang bisa mereka siapkan dari rumah masing - masing. Para pemuda yang kuat membantu mengangkat barang - barang yang berat. Sangat indah, inilah surga yang kami bangun sesuai arahan pemuka agama kami. Semua saling mencintai dan mengasihi, tidak ada yang memikirka diri sendiri, semua punya energi yang kuat dalam membantu orang lain padahal dia sendiri sibuk dengan urusannnya.

Kami memilih pemimpin kami yang benar - benar mau berkorban waktu dan biaya untuk kami, yang kaya sering membantu biaya karena pemimpin kami tidak cukup waktu cari uang. Saking semua waktunya diberikan untuk kami. Pemuka agama kami juga begitu iklas dalam memberi contoh tauladan. Sabar memberi pengertian kepada yang belum faham.
" Coba kamu curi ayam tetangga kamu, apa yang kamu rasakan? tidak nyaman, gelisah.
" Coba kamu bantu cari makanan untuk ayam tetanggamu, apa yang kamu rasakan? kamu pasti merasa senang. Karena itulah kita harus berbuat baik, supaya hati kita bahagia.

" Tapi orang lain tidak mau membalas kebaikan itu pak? biarkanlah itu jadi neraka dia, kalau ada waktunya saya juga akan bicara dengannya.
" Balasan tidak musti datang dari dia, akan ada orang lain yang membalasnya. " Begitu juga keburuka yang dia lakukanm akan ada balasannya dari orang lain, tidak musti kamu balas. " Kita cukup berbuat baik saja semampu kita, bukan demi orang lain tapi demi kenyamanan hati kita sendiri, jadi kita tidak butuh balasan dari dia, toh kita berbuat baik untuk diri kita kok, tapi kalau kamu tidak mau berbuat baik tidak apa - apa, tapi jangan berbuat jahat juga.

Begitulah pemuka agama kami sabar mendidik kami, dia juga tidak punya uang, tapi yang kaya selalu membantu dia. Indah sekali kampung kami, inilah surga kami. Anak - anak kami bukan hanya anak kami, tapi anak semua orang dewasa di kampung kami, mereka semua perduli kepada anak - anak kami, kami juga begitu sama anak - anak yang lain. Semua orang dewasa sabar mendidik anak - anak kami, jadilah anak - anak kami begitu sayang sama orang tua dan seluruh penduduk kampung kami dia anggap keluarganya.

Kamis, 17 Oktober 2019

It's Beautiful.

" Negeri itu sekarang sudah berubah pak, kita tidak bisa lagi memperalat militer mereka untuk mengamankan kepentingan kita.
" Kamu kira secepat itu mereka berfikir maju? mereka terlalu bodoh untuk cepat maju.

" Jadi apa namanya?
" Lihat perbedaan suku dan agama mereka, itu bisa kita mainkan jadi alat pecah belah, sehingga pemerintah tidak konsentrasi mengganggu kepentingan kita. Negara itu akan penuh dengan konflik horizontal yang tidak berkesudahan.

" Saya faham pak.
" Kamu cepat faham, tidak seperti mereka.

" Kamu berangkat ke sana, kumpulkan orang kita di sana, terutama orang bodoh yang merasa pintar, laporkan apa - apa yang harus kita kerjakan. " Kami dukung seratus persen yang kamu butuhkan.
" Baik pak, saya berangkat ke Indo Malaya.

Negeri kaya raya oleh hasil alam yang tidak terhingga nilainya, tenaga kerjanya murah, telah membuat rakyatnya manja dan tidak terpacu untuk berfikir. Di tambah larangan berfikir oleh penguasa boneka negara besar. Lengkap sudah kemalangan negara itu. Kekuatan pengaruh agama dan suku bagaikan bom waktu yang sewaktu waktu mudah meledak. Remote kontrol bom itu di serahkan kepada negara besar untuk di ledakkan kapan saja mereka mau. Karena pejabat - pejabat lokalnya, muncul dari hasil tipu - tipu, suap, isu - isu sara yang masih sangat laku. Pejabat model ini sangat mudah di kendalikan oleh penguasa negara lain yang punya kepentingan besar akan hasil alam dan tenaga kerja murah. Untung besar, it' beautiful, kata Hendri Hill dalam film Mobster.

Ketika muncul pemimpin yang di dukung rakyat, yang membela kepentingan nasionalnya, alamat rugi besar bagi para pedagang internasional itu. Mereka adalah pedagang kaya yang mendukung kekuasaan di negaranya. Tidak heran kemudian kepentingan dagang mereka di bantu penuh oleh penguasa negaranya. Perdagangan mereka meliputi, pesawat terbang, peralatan militer, mobil besar mobil kecil, peralatan pertanian, peralatan pertanian, bahkan piring dan sendokpun berhasil mereka jual di negeri ini. Segala hasil alam seperti minyak, tambang mineral, buku, film, baju, sepatu, alat komunikasi, berhasil mereka jual kepada rakyat bodoh yang tidak pernah diberi pilihan produk lain oleh negaranya.

Pemimpin yang nasionalis dan membela kepentingan rakyatnya, akan di tekan dengan isu demokrasi. Setiap kali kelompok yang mengatasnamakan demokrasi ujung - ujungnya akan menekan pemerintah yang nasionalis. Tidak bisa di tekan oleh pemerintah atas nama demokrasi. It's beutiful. Kelompok demokrasi akan merangsek menekan pemerintah nasionalis sampai jatuh. Di gantikan pemerintah yang mengakomodir kepentingan pedagang internasional tersebut. Pemerintah cerdas membiarkan suara demokrasi itu tanpa mau menekannnya lebih lanjut, cukup dengan memperbaiki taraf hidup rakyatnya. Suara - suara oposisi akan hilang sendiri tanpa dukungan.

Para pedagang internasional itu tidak kehilangan akal, mereka mendekati kelompok - kelompok dalam agama yang banyak di negara kaya itu. Pertama mereka membiayai kelompok liberal yang menekan kelompok fundament, manis sekali. Kali ini perang biaya murah akan terjadi terus menerus, di antara kapal - kapal yang membawa hasil dagang kita. Ketika kelompok liberal tidak di dukung pemerintah, mereka akan bersuara " bahwa negeri ini tidak mengenal adab. Dengan terpaksa pemerintah mendukung kelompok liberal. Ketika pemerintah seolah membela kelompok liberal? mereka mendekati kelompok fundament untuk menekan pemerintah. It's beatiful.

" Selamat datang kembali di negeri kita agen terbaikku, kata bos.
" Perintah kami laksanakan yang sempurna pak.
" Sekarang kalian bisa berlibur dan menikmati kerja keras kalian.
" Baik pak.

Perang ini sangat murah, kita cukup memberi sedikit biaya kepada tokoh - tokoh lokal dan menjanjikan kewarganegaraan penuh di negara kita. Tokoh lokal yang berseteru sejak lama, karena perbedaan padangan, tinggal diberi sedikit bahan bakar, duar..!!!kedua fihak merasa mendapat dukungan negara besar, itu nyata berupa uang dan bantuan opini di media, media bertolak belakang yang patuh kepada tuan yang sama; pedagang internasional. Kelompok fundament yang mendapat dukungan opini dan biaya berkembang luar bisa untuk mengantarkan bom kepada pedagang internasional yang sebenarnya adalah tuannya sendiri. Mereka menuai yang mereka tabur. 

Di bawah pedagang internasional itu ada manager handal yang bekerja untuk pemodal internasiona l mereka lulusan terbaik inuversitas kelas internasional. Mereka jenderal lapangan yang sangat gigih dan ambisius dalam mengejar prestasi. Di bawah pejabat lokal pun ada tokoh masyrakat yang sudah senang dengan uang jutaan memainkan isu - isu sara permintaan pejabat lokal yang tampil seolah cinta suku dan agama mereka. Tokoh masyarakat lokal tidak sadar mereka bekerja untuk pemodal yang seharusnya dia lawan. Tapi karena fanatisme buta akan suku dan agama, mereka sangat mudah di hasut oleh pejabat lokal yang sejak lahir sudah ditakdirkan olah kata.

" Pak, semua permintaan kita sudah diamini oleh Presiden Indo Malaya, saya kira perlu kita beri dia gelar kebangsaan di negara kita.
" Ide bagus, tapi tunggu Undang - Undang minyak dan tambang mineral dia tanda tangani, dia sedang repot menghadapi kaum nasionalis.

" Baik pak.
" Semua sudah saya fikirkan, mudah mengatasi sekelompok manusia bodoh itu.

" Tapi manusia bodoh yang banyak sangat berbahaya juga pak, lihat bom mereka, lihat aksi mass mereka merusak usaha kawan - kawan kita.
 " Benar, itu resiko yang harus kita hadapi kalau bekerja sama dengan binatang.

" Bagaimana mengatasi mereka nantinya pak, sebelum mereka banyak da menyusahkan kita?
 " Kita kirim agen kita untuk mengumpulkan mereka di suatu tempat, begitu mereka berkumpul? mudah kita kirm bom, atau beri mereka bom agar sesama mereka saling bom.

" Caranya?
" Beri mereka informasi tentang sebuah negara yang indah berdasarkan agama mereka, saya yakin semua akan berkumpul di daerah yang kita inginkan, kita bom saat mereka saling bom, mereka sampah peradaban. " Tidak ada gunanya berlama lamadengan mereka.

" Kita kumpulkan kelompok demokrasi untuk bekerja sama dengan kita, kita ajak mereka bertarung bebas, mereka kira mereka mampu bertarung bebas dengan kita.
" It's beautiful.

Selasa, 08 Oktober 2019

Duniaku runtuh

Sejak kecil kami sudah menikmati hidup yang sangat berkecukupan, dibanding tetangga, dan keluarga kami yang lain. Maklum papa seorang pejabat daerah yang gajinya tidak seberapa, tapi " seserannya" banyak kata orang. Yang lebih banyak cemburunya daripada bicara dosa, soalnya kalau papa servis mereka makan - makan, semua tersenyum memuji papa. Bahkan papa belum selesai bicara saja mereka sudah mengangguk aguk kayak burung beo di pasar malam. Terang saja papa makin banyak korupsi untuk memberi makan mulut - mulut munafik ini.Belum lagi masa pemilu tiba, ada saja yang minta uang ke rumah kami. Mulai dari lahirnya organisasi, lahir anak, sampai anak kucing lahir mereka ajukan proposal sama papa, semua di turuti papa.

Aku belum tahu apa - apa waktu itu, yang aku tahu apa yang aku inginkan mudah sekali diberikan. Buku, mainan, baju, tas , sepatu kami adalah yang termahal di antara anak lain. Jadilah kami anak - anak yang sangat manja, mama sibuk kumpul sama teman - temanya sesama ibu - ibu pejabat. Biar jabatan papa langgeng katanya. Bahkan ada angin tidak sedap berhembus, mama dekati bos papa di hotel.

Kami hanya di temani Bi Inah yang selalu menuruti apa mau kami. Soalnya kalau dia banyak bacot akan kami laporkan ke mama, habis dia kena marah. Bahkan ketika Andi kakak saya yang paling tua pulang teler, dia tidak berani melapor ke mama. Karena kalau melapor akan didamprat,

" Kamu tahu apa bi!? Andy bukan anak kampung, dia anak pejabat, boleh dong gaul sama anak - anak pejabat, biar berkelas dong. " Iya bu, kata Bi Inah surut.

Cerita Bi Inah tentang pengalaman saudara yang juga pejabat, kami anggap suara kentut. " Nanti kayak keluarga Om saya, semua jadi kacau, kata Bi Inah pelan.
" Hmmmm! jawab kami ketus.

Papa di rumah hanya sebentar saja, paling juga numpang mandi, ganti baju saja. Tidak lama, " baik pak, baik pak, kata menerima telepon dari atasannya. Kalau sudah begini, kita harus siapkan semua keperluan papa, baju, buku, rokok, parfum dll, jangan sampai ada yang ketinggalan, papa akan marah besar. Rumah seperti anak - anak ayam kucar kacir di kejar elang. Seperti papa dan teman - temanya juga akan kucar kacir kalau atasannya datang. Untung Bi Inah orangnya cekatan. Biasanya papa pulang larut malam, besok pagi sudah pergi kerja.

Sebagai gadis remaja, aku mulai melirik remaja pria yang paling ganteng di sekolah. Boni namanya dia juga anak pengusaha kaya di daerah kami. Mudah sekali kami menjalani hubungan, semudah kami berpisah kemudian karena papa masuk penjara karena korupsi. Dunia serasa runtuh, mama meraung raung kayak babi diterkam harimau. Dia lupa selama ini dia yang mendorong papa korupsi, giliran begini, mama sibuk cari kambing hitam, tidak pernah mau cari kamping putih. Kan kasihan kambing putih korban pilih kasih. Bi Inah tidak berani keluar kamar kalau ada mama. Takut jadi sasaran kemarahan mama.

Malam itu mama mengajakku menemui seorang pejabat yang sangat berkuasa. Om Tohap namanya, matanya tidak henti hentinya menyapu seluruh tubuhku dan tubuh mama.
" Nanti saya hubungi ya bu, kata Om Tohap.
" Iya pak terimakasih sebelumnya kata mama bungkuk - bungkuk seperti Bi Inah kalau dimarahi mama. Hidup memang aneh, di rumah seperti raja, di depan penguasa seperti hamba juga.

" Kita temuin Om Tohap dek kata mama. " Emang Putri harus ikut ma? " Iya dong, masak mama sendiri menemui laki orang? lagian Om Tohap minta kamu ikut juga, kata biar tidak ada fitnah, " Dimana ketemunya ma? " Di hotel XXBahagia dek. " Kok di hotel sih ma? " Sudah jangan banyak tanya, sudah syukur Om Tohap masih mau menemui kita. Ini demi papa kamu. Dengan langkah malas aku ikuti mama ke hotel XXBahagia, saya aku tidak sebahagia hotel ini, sudah putus pacar, papa masuk penjara, ini mau nemui om - om yang bermuka mesum, di hotel lagi. Firasat tidak beres ini. Firasat ini semakin jadi ketika Om Tohap minta di temui di kamarnya, ingat cara dia memandang tubuhku.

Benar saja, di ruangan sudah ada minuman keras, apa mau ajak kami mabok bandot tua ini. 

" Silakan duduk, katanya sambil menyiapkan tiga gelas.
" Saya tidak usah minum om, kataku memohon.

Wajahnya langsung masam, sambil berkata merayu " ayolah hargai tuan rumah, mama juga sepertinya mendukung dia. Jadilah kami minum bertiga, tidak menunggu lama kepala saya sudah puyeng. Hanya dung, dung..saja berdenging di kepalaku, tidak tahu apa lagi yang dibicarakan mama dan Om Tohap. Tengah malam, waktu menunjukkan jam 03.00 pagi, mama membangunkanku dari mabuk, pakaianku dan pakaian mama sudah acak acakan. " Mama! teriakku, mama memeluk dan berbisik," ini semua demi papa.

Sabtu, 14 September 2019

Janda penentu kekuasaan.

Kamu janji menikahi aku bang, jangan harap kamu jadi Gubernur kalau tidak mau menikahi aku,ancam Lenty kepada Azis Toni SH sang calon Gubernur.
Azis diam saja, tidak perduli ancaman janda paruh baya itu.
Lenty pengusaha yang bergerak di bidang transportasi laut di pulau Jawa, suaminya selingkuh membuat dia murka dan hijrah ke Sumatera dan berusaha sendiri. Dalam usaha yang menembus banyak rantai birokrasi yang ruwet itu membuat Lenty banyak kenal pejabat dan orang berpengaruh di salah satu pelabuhan pulau Sumatera. Termasuk mengenal Azis anak mantan Gubernur yang ganteng dan berpengaruh di daerah ini. Hubungan bisnis hitam mereka berlanjut ke hubungan asmara, tidak seperti pejabat lain yang hanya minta uang dan tidur sekali dua kali saja dengan Lenty, " negosiasi bisnis diatas ranjang " kata lawan bisnisnya, kali ini tidak, Lenty jatuh cinta, sedangkan Azis hanya bermain main saja, sesuai kebiasaan dia.

Seperti kisah seorang pejabat tinggi meninggal, kabarnya istrinya cantik, buru - buru Azis mempelajari profil pejabat tersebut dari kalangan pejabat yang dia kenal. Azispun datang dengan air mata dan oleh - oleh untuk janda pejabat itu. " Maafkan saya mbak, tidak bisa hadir di acara kepergian bapak, saya ada kerjaan di luar negeri, tetap dengan uraian air matanya. " Saya banyak hutang budi dengan bapak, saya banyak diantu dan bina seperti adik sendiri bla bla.. Hari - hari berikutnya dia tetap datang dengan oleh - oleh dan air mata. " Kalau mbak perlu apa - apa, jangan sungkan minta ke saya, kata Azis. Anak mantan Gubernur, kaya dan ganteng tidak membuat curiga siapapun yang mengenalnya, kecuali orang - orang dekat saja yang faham watak dia. Singkat cerita si janda pejabat yang masih kaya ini dinikahi, diajak join bisnis, dan Azis tetap berpetualang kemana dia suka. Ada beberapa janda yang berhasil dia tahklukkan dengan cara ini, ada yang beruntung tetap kaya, ada pula yang sial rugi dan ditinggalkan Azis begitu saja.

Pola yang sama mau dipraktekkan kepada Lenty, tapi Lenty lebih cerdas, memorynya mengingat dengan baik, dosa - dosa hukum Azis. Tapi Azis anak raja yang tidak pernah belajar berjuang, dia cuma tahu menghabiskan uang, olah sana olah sini, tidak menyangka sedikitpun akan jatuh oleh janda paruh baya yang masih cantik ini. Pencalonan Gunbernur di masa pemilihan oleh DPRD dengan mudah dimenangkan oleh Azis, suap beberapa oknum DPRD yang suara mayoritas membuat Azis memenangkan pemilihan, ucapan selamat datang dari berbagai penjuru. Lenty datang dan mengahabiskan malam kemenangan bersama Azis. Dianatar keringat yang masih membasahi tubuh keduanya, Lenty menagih janji Azis untuk menikahinya. Terbayang status sebagai ibu Gubernur, siapa yang tidak mau? memberi pelajaran kepada mantan suaminya, " Kamu lihat pa, sekarang saya istri Gubernur, barangkali itu yang mau dia perjuangkan. Padahal secara umum dia sudah bersama Gubernur terpilih bahkan dimalam kemenangan ini.

Sulit memang untuk lepas dari bayangan orang yang pertama mencintainya dengan sepenuh hati, menjadikan dia istri. Entah mantan suaminya ingat atau tidak lagi dengan dia. Tapi dalam hatinya masih terikat ego yang besar untuk memberi pelajaran kepada mantan suaminya itu. Dalam bisnis Lenty sangat dingin, memperjuangkan bisnis dengan segala cara, dari loby, suap, gertak, sampai tidur bersama, seperti sebuah istilah " kalau tidak bisa duduk bersama, bagaimana kalau kita tidur bersama? jarang pejabat yang bisa lolos dari jurus terakhir Lenty, selain cantik dia juga cerdas, tidak rugi rasanya bagi kebanyakan pejabat untuk sekedar melonggarkan urat yang tegang. Dengan ego dan emosi ini Lenty jadi gembel sampai tua.

Lenty mendekati lawan politik Azis yang sangat lihai dalam hukum, karena dia bekas pejabat hukum. " Bang saya mau bantu abang, tapi abang juga harus bantu saya.
" Ada apa dek? tanya calon Gubernur gagal.

" Azis punya ijazah palsu, saya kira cukup untuk mengagalkan kemenangannya bang.
" Ohya, kamu mau jadi pelapor? yang lain urusan abang.

" Siap bang, kata Lenty.
" Baik dek, kita mainkan, kamu akan saya ingat sebagai orang yang paling menentukan karier abang, tidak usah takut sama beruk itu, dia urusan abang.

Terbitlah surat panggilan untuk tersangka ijazah palsu, Azis Toni yang dimana mana pakai " SH " dibelakang namanya. Hubungan yang kuat dengan kepolisian daerah membuat kasusnya mandek. Tapi lawan tidak kalah kuat, memilih Mabes Polri sebagai tempat operasi penangkapan. Azis Toni tanpa SH jadi tersangka dan di jemput paksa oleh Mabes Polri. Pupuslah harapan untuk jadi Gubernur. Tidak lama pemilihan ulang dilaksanakan lagi pemenangnya adalah lawan politiknya.

Dengan segenap kekuatan Azis mengerahkan para preman untuk memburu Lenty, tapi sia - sia, janji Gubernur baru akan melindunginya tidak efektif. Lenty buronan seumur hidupnya, selain buron preman, Lenty juga diburu Polisi untuk beberapa kasus bisnisnya, tentunya dibuka oleh Azis Toni.

Jumat, 13 September 2019

Bermanfaat bagi orang lain.

Semua orang ingin bercerita dan di dengar seperti anda juga ingin di dengar. Paling tidak mendengar cerita orang lain sudah membuat kita bisa bermanfaat. Memang memberi uang, solusi, dll itu lebih baik sama orang lain, tapi tidak banyak orang yang mampu melakukan itu. Paling tidak mau mendengar cerita susah dari orang lain sudah memberi sedikit manfaat bagi orang lain. Berat memang mendengar, terkadang lawan bicara hanya ingin mencurahkan unek - uneknya saja, dia juga tahu tidak ada solusi untuk masalah dia. Dalam situasi ini jangan terpancing untuk pusing memberi solusi karena sebenarnya dia tidak butuh solusi, selain daripada ingin cerita saja. Bukan tidak boleh memberi solusi, usahakan mendengar dulu sampai dia puas bercerita, pancing dengan ide solusi dari anda, kalau dia diam? berarti dia butuh, tapi kalau dia sibuk membantah solusi anda? diamkan saja, biarkan dia puas bercerita lalu anda usahakan untuk menhindar atau mengakhiri cerita. Bukan apa - apa, pasti anda akan pusing kalau tidak diberi kesempatan berbicara, tapi kalau mampu bersabar untuk waktu yang lama? tidak apa - apa dengarkan saja ceritanya dsampai dia bosan.

Pon yang utama dimaksud disini, kasihan sekali orang yang tidak punya pergaulan banyak, tidak ada teman dalam bercerita.

Minggu, 08 September 2019

Yuli

" Dulu kamu begitu menyukai dia, bahkan takut tidak berhasil mendapatkannya. " Sekarang, sejak bapak kamu jadi pejabat tinggi, kamu mulai melihat dia sebelah mata. " Mentang - mentang banyak gadis yang mau dekati kamu sekarang.
" Hmmmm...jawab dia buang muka. " Dia juga mau aku dekati sejak papa jadi pejabat kok, dulu papa bukan siapa - siapa, aku juga antre kalau mau apelin dia.

" Iya juga ya..jawabku si lugu ini, tidak bisa menolak kata - kata yang masuk akal.
" Aku rasa kalau bapak dia yang jadi kaya dan berkuasa tiba - tiba? dia juga makin sulit aku dekati, kata Rio semangat mendapatkan argumen yang tepat untuk niat dia.

" Tapi aku kasihan melihat dia seperti memohon cintamu, " sebaiknya berikanlah keputusan yang tepat biar dia tidak berharap harap. " Karena bagaimapun kita masih saudara sama dia, beda dengan wanita lain yang kamu dekati. Zaman dulu orang tua sangat mendorong kita menikahi pariban, sekarang tidak lagi. Tapi kalau kamu mau menikahi dia? keluarga besar akan senang, dan ikatan keluarga yang sudah semakin renggaang, bisa merekat lagi. " Itulah tujuan leluhur kita dulu, supaya kita bisa menjaga ikatan keluarga besar dengan menikahi pariban ( bapaknya saudara laki - laki ibu kita).

Yuli pariban kami, Rio anak dari bapak udaku, ibu dia dan ibu saya adik kakak. Sejak bapaknya berhasil jadi anggota dewan, ada saja pekerjaan yang harus aku bantu di rumah ini. Maklum karena aku rajin dan sedikit cerdas hehe..aku panggil bapak juga ke bapaknya Rio, dia jago loby, main proyek dengan segala loby dan suap- suap. Akhirnya kaya dan mencalonkan diri jadi anggota dewan, menyuap pemilih dan oknum di komisi pemilihan umum biar lolos. Bapak uda memang benar - benar jago loby.

Di berbisnis seolah negara tidak ada, hukum tidak ada, yang ada hanya loby, sikat, untung, suap, ds.dst..apa - apa yang saya baca di masa kuliah dulu tidak ada artinya di depan bapak uda. Sarjana lulu dengan nilai memuaskan tidak ada artinya di depan bapak Uda ini. Padahal kata bapak dia bukan anak cerdas, malah tukang bolos, bapakku lebih cerdas malah cuma jadi petani miskin. Tapi bapakku orang yang bijak, dia tidak mau ngotot minta dihormati di keluarga besar sebagai anak lelaki tertua. Dia seharusnya jadi bapak juga kalau kakekku sudah tidak ada.

Tapi bapakku tahu, kata - katanya tidak ada artinya kalau bapak Uda sudah bagi - bagi uang. Semua kata - kata bijak bapakku bagai angin kentut bagi mereka. Tapi bapak tidak marah, karena kalaupun ngotot? yang dia dapat hanya kekonyolan. Hal itu juga membuat bapak Udaku masih segan sama bapak, dengan basa - basi dia masih mempersilakan bapakku ambil sikap penutup sebagai pengganti bapak mereka. " Sudah pas itu dek, kata bapak biasa menutup rapat.

" Bang, teriak Yuli kepadaku seolah melihat Rio.
" Kemana dek, nyari Rio?

" Ngak, kangen namboru aja, kata dia menyebut ibu - ibu kami, karena dia semarga sama ibu saya dan ibu Rio.
" Perasaan namborumu banya dek, yang di rindukan cuma namboru mamak Rio terus.

" Ih, abang bikin Yuli merasa bersalah aja.
" Iyalah, abang maklum, itu namborumu di dalam, kalau Rio masih di luar dari tadi, tunggu aja, nanti juga pulang.

" Iya bang, abang mau kemana?
" Biasalah dek, ini ada perintah dari ketua ( menyebut nama bapa Uda, karena dia punya banyak organisasi yang memilih dia jadi ketua) pula.

Yuli gadis masa kini kuliah, nongkrong di mall, di rumah sudah ada pembantu dan tukang cuci. Dia tidak lagi menyentuh tanah ladang, masak pakai kayu bakar, atau mencuci baju di pancuran desa. Tapi di rumah Rio dia seperti gadis masa susah orang tua kami. Dia memasak, giling cabai, demi cari muka di depan Ibuny Rio yang masih memegang adat orang tua dulu, dimana memilih gadis dilihat dari caranya memasak, mengolah ladang. Mamak Uda aku memanggilnya, tidak tahu kalau anak sekarang banyak yang jago akting. Lagipula tidak salah Yuli jadi mantu, selain ponakan dia sendiri, Yuli juga sepertinya anak baik.

Yang jadi masalah justru si Rio, sejak bawa mobil sendiri, anak itu seperti anak pejabat lain, naik monil keluaran terbaru, nongkrong, gaet wanita dengan mudah, dugem. Wanita sepertinya tidak ada arti apa - apa bagi dia. Beda sekali dengan aku, sudah hidup numpang bapaknya, suka salah tingkah di depan wanita. Lebih suka menghadapi masalah bisnis daripada masalah asmara. Dulu sewaktu kami masih kecil, Yuli sudah jadi bintang idola di kampung kami, juga idola diantara pariban - pariban kami. Selain kami, banyakjuga remaja lain di kampung kami yang mengejar Yuli. Tapi sekarang berubah, Yuli yang mengejar Rio dengan dalih yang sangat tepat " kangen namboru ".

Cewek lain mencoba mendekati Rio dengan mampir di tempat - tempat Rio dan kawan -kawannya sering mampir. Cewek - cewek itu seperti tidak punya harga diri lagi di depan Rio. Aku sangat khawatir Yuli juga akan diperlakukan sama oleh Rio. Melihat perubahan gaya hidup dia akhir - akhir ini, sudah merasa kecil melihat adat dan kebiasaan kami. Para tokoh adat dan agama juga kadang tidak lagi menunjukkan sikap yang jelas kalau sudah berhadapan dengan uang dari bapaknya Rio. Hal ini memberi contoh yang buruk untuk anak muda seperti kami, tidak ada lagi kehormatan selain uang dan uang.

Bahkan Tulang kami yaitu bapaknya Yuli yang sangat kami hormati dan segani apalagi ibu kami menyebutnya " tuhan yang terlihat " katanya saking hormatnya. Tapi Tulang juga sudah memperlihatkan cara yang berbeda kepada bapak Uda dibanding bapak - bapak kami yang lain, menambah buruknya nilai - nilai adat dan kebiasaan kami. " Semua urusan uang!! teriak bapak Uda kalau sedang mendidik kami. Melihat perjuangan bapak Uda merubah hidup membuat prinsip idealisme yang aku pegang di sejak kuliah seolah tidak ada mata lagi. Aku tahu dia salah, tapi aku tidak sanggup mengatakan hal itu, melihat kenyataan di depan mata. Orang - orang di sekitar kami juga tidak pernah menganggap kami ada. Sejak bapak Uda jadi kaya dan sekarang duduk di dewan membuat banyak orang yang hormat pada keluarga besar kami. " Awas kepala kau dibeli " kata orang - orang di kedai kopi kalau berdebat agak keras denganku.

" Tidak begitu bung, debat kita lawan debat, fikiran dilawan fikiran, fisik lawan fisik, gitu dong. 

Tetap saja mereka memilih diam daripada mengkoreksi lebih dalam ulah bapak Uda yang banyak melawan hukum dan etika. Beberapa oknum aparat hukum, oknum wartawan, oknum LBH tidak lagi mengenal idealisme demi uang dari bapak Uda, apakah Yuli juga termasuk? Ibu -ibu, gadis, di birokrasi suka minta dibayarin makan siang sama bapak Uda. Tidak ada lagi yang pegang prinsip kalau berhadapan dengan uang. Dulu bapak Uda cuma pedagang kecil di pasar, sering dipalak preman membuat dia berang dan memukul preman itu KO, sejak itu bapak Uda mulai mengerti hidup bisa lebih baik dengan kekuatan fisik. Menerima uang panas dari para preman kecil. Merambah bisnis dengan pemerintah melalui proyek negara. " Dulu aku cuma dapat dapat 20.000 saja berantem dulu, sekarang dapat jutaan hanya dengan berbagi uang proyek kepada oknum pemerintah. Mambuat dia cepat jadi " kesayangan " pemerintah karena sangat royal membagi uang kepada mulut rakus oknum pejabat negara yang sebenarnya sudah cukup sejahtera dengan gaji dan berbagai tunjangan lainnya.

Mamak Uda istrinya cukup senang dengan uang belanja yang tidak pernah putus, sudah syukur suaminya tidak kawin lagi. Mamak Uda pura - pura tidak tahu saja, adanya " selir " bapak Uda di belakang. Yang penting dia masih jadi ratu.

" Darimana kalian? tanyaku kepada Rio yang menuruni tangga hotel XX berdua. Wajah Yuli begitu gembira walau seraut lelah terlihat diwajahnya,
" Mau tahu aja urusn anak muda bang! teriak Rio.

" Iya, ya kataku berlalu.

Wajah Yuli semakin cantik saja karena bahagia bisa jalan dengan Rio, Yuli akan bilang aku cemburu kalau aku katakan" hati - hati dengan Rio, terpaksa aku diam saja, dan berharap Rio menikahi Yuli. Pariban kesayangan kami. 

Waktu berjalan singkat, bapak Uda di tangkap KPK, langit rasanya runtuh di keluarga besar kami. Rio mengamuk bagai banteng liar tidak tentu arah, dia mau hajar petugas KPK di kantornya.

" Sabar Yo, kita cari langkah yang lain, kita cari pengacara, itu lebih baik.
" Abang enak saja bicara, karena dia bukan bapakmu.

" Rio! sadarlah! dia bapakku juga seperti kamu, siapa yang selalu menemani dia? apa kamu? kamu hanya sibuk dugem, main cewek saja, aku siang malam stand by menunggu perintah Uda.
" Maaf bang, aku panik, aku tidak tahu mau berbuat apa lagi.

" Makanya kamu berdoa dulu yang tenang, biar abang yang mikirin solusinya. Kau berhenti minum dan keluar malam dulu, biar otakmu dingin.
" Iya bang, kata Rio sambil menangis tidak henti.

Semua usaha sudah aku lakukan untuk mengurangi kesalahan bapak Uda, paling tidak barang bukti harus dibuatkan narasinya agar tidak terlalu mencolok sebagai uang korupsi. Mamak Uda juga selalu menangis membuat tugasku semakin berat. Untung Yuli tidak ikut merengek, dan setia menemani usaha kami mengamankan bapak Uda. Dalam hatiku yang paling dalam" sudah saatnya keluarga ini merenungi hidup, kita sudah terlalu banyak berbuat salah. Kita sudah lupa diri. Keluarga miskin yang bersahaja dulu kini berganti bagai keluarga raja yang sombong, rakus, tidak lagi mau merenungi hidup.