Sabtu, 09 Maret 2019

Sabet lawan politik



" Papa !, saya dikatain selingkuh sama Jenderal Kavaleri Toni Ramadhan oleh pak menteri Mungkus,' adu sang putri kepada bapaknya: presiden berkuasa. 

" Kok bisa begitu ?,' tanya bapak presiden.
Dia takut saya jadi ketua partai pa, makanya dibuat isu ini, dia kan bekas orang jurnalis, dia pandai membuat opini,' kata sang putri.
Baiklah, nanti papa copot dia dari jabatan menteri,' sahut presiden.

Tidak ada yang bisa membuktikan hubungan putri presiden dengan jenderal kavaleri. Tapi semua orang waras menduga ada hubungan cinta antara mereka berdua. Sebenarnya tidak ada pula yang perduli hubungan itu kecuali orang sirik karena tidak bisa selingkuh dengan anak presiden yang sudah bersuami itu. Tapi bagi lawan politik dalam satu partai: ini peluang mendepak dia dari kursi ketua partai.
Sang Jenderal bukan favorit presiden bukan favorit para prajurit dan para politikus lingkar istana. Tapi kariernya bisa melesat menjadi kepala staf. Semua menduga karena kedekatan pribadinya dengan anak presiden. Kalau dilihat dari kemampuan bicara dan kinerjanya memang dia bukan siapa - siapa. Hanya keuntungan perselingkhan itu saja yang menguntungkannya.

Sebenarnya kisah begini bukan hal baru di lingkungan kekuasaan. Dari zaman raja - raja sudah begitu. Karena mereka juga manusia biasa seperti buruh tani buruh pabrik yang juga ada selingkuhnya. Cuma kedudukan mereka tidak ada pengaruhnya kepada kekuasaan dan uang yang menyangkut orang banyak tidak ada yang perduli. Beda dengan artis yang hidupnya di perhatikan orang banyak. Setiap perselingkuhannya di bahas media. Padahal intinya satu: selingkuh.

Pak presiden yang sudah lama berkuasa ini pun sangat lihai menata kabinetnya. Dia mencopot jabatan pak menteri tapi diberi jabatan lain yang seolah lebih tinggi namun tidak pegang anggaran, tidak punya wewenang membuat kebijakan. Tidak lama kemudian dia pun di jadikan kepala legislatif yang secara hukum sejajar dengan presiden. Tapi ditangan presiden otoriter ini legislatif dan yudikatif tidak ada fungsinya. Semua komando ditangan kepala eksekutif: presiden berkuasa. Tidak ada kekuasaan yang abadi ketika tiba masanya demonstrasi besar besaran menolak presiden berkuasa ? pak menteri yang ini pun menjadi orang pertama yang menyarankan presiden untuk mundur dari kekuasaanya.

Jumat, 08 Maret 2019

Teror oleh unit anti teror

Kamu terlalu banyak pakai uang negara ini. Kita perlu uang untuk proyek lain. " Tapi pak, uang itu untuk kesejahteraan anak buah saya. Mereka dibayar mahal untuk menjaga keamanan negara ini termasuk menjaga anda dan keluarga anda.

Tidak !, untuk tahun ini mungkin untuk tahun yang akan datang,' sahut menteri pertahanan.
Baik pak,' sahut panglima militer.
Kriiiinggg...siap pak perintah ? Suara dari seberang.
" Kamu merapat ke ruangan saya sekarang !
Siap pak ! Laksanakan.
Masuk ! Masuk ! Duduk !


Komandan pasukan khusus duduk dengan wajah penuh tanda tanya, tiba - tiba panglima tertinggi militer meminta dia menghadap.
Politisi bajingan itu tidak mau menambah anggaran militer, mereka lebih fokus ke proyek jalan. Mereka lupa kalau kita juga punya peranan penting di negara ini. Kalau lagi aman begini mereka lupa kalau kita punya tugas penting.
Perintah pak ?,' tanya komandan pasukan khusus. Kalau negara aman kita tidak dianggap perlu,' kata panglima. Iya pak,' apa yang bisa saya bantu ?,' tanya komandan pasukan khusus. Kamu memang cuma seorang kolonel belum bisa berfikir seperti jenderal. Siap pak, minta petunjuk,' sahut komandan pasukan khusus. Gunakan satuan anti terormu untuk membuat situasi tidak aman.
Pasukan anti teror membuat teror pak ?,' tanya komandan pasukan khusus bingung.
Iya kolonel ! kamu buat teror agar negara terlihat tidak aman, agar mata mereka terbuka untuk tetap menambah anggaran kita.
Baik pak saya laksanakan, kapan bisa dimulai ?.
Jangan terburu buru karena baru saja permintaan kita ditolak. Ini juga bagus buat kamu dan anak buahmu untuk mengatur skenario, dan memilih orang - orang yang faham maksud kita. Baik pak. Apa bentuknya pak ? Separatis, ideologis, ?
Terserah kamu yang penting dampaknya menarik kita untuk siaga.
Bagaimana kalau pencurian rudal oleh teroris ?
Bagus juga, laksanakan dengan rapi tanpa jejak,' perintah panglima.


Televisi nasional menyiarkan pencurian rudal oleh sekelompok teroris. Para pengamat teroris, politikus, pejabat polisi dan militer ramai di kejar media. Rapat demi rapat di gelar, politikus relasi Panglima militer berkata," perlu kenaikan anggaran untuk militer. Sempurna ! sesuai dengan rencana.

Menghabisi lawan politik

" Bunuh dan habisi semua kaum bohemian ! untuk mengurangi jumlah pendudukmu, mengingat nanti akan jadi beban berat negara. Kaum bohemian ini akan jadi biang kerok kita saat mengajak rakyatmu bekerja di perusahaan - perusahaan kita. Karena kaum bohemian bodoh ini tidak akan mau bekerja untuk kita, mereka maunya jadi bos dengan otak bodohnya. Jangan ragu membunuh mereka semua. Mereka tidak berguna, bahkan merugikan kita.

Itu harus dilakukan. Seperti cara kami juga mengirim anak - anak kami ke seluruh penjuru dunia untuk menegakkan demokrasi. Menjalin bisnis dengan penguasa baru yang berfikir maju seperti kamu. Kematian para prajurit kami, sekalian juga untuk mengurangi jumlah penduduk kami yang sangat padat. Kamu lihat bagaimana bangsa - bangsa lain dari seluruh bumi menginginkan diri mereka jadi warga kami. Itu jadi beban negara. Tapi kamu adalah warga kehormatan kami kamu akan mendapat gelar bangsawan dari kami.

Membinasakan mereka adalah membinasakan lawan politik kita. Yang akan menganggu pemerintahan kamu kelak. Dan dengan begitu kamu bisa berkuasa selama yang kamu inginkan karena dukungan politik dari kami. Asal sumber daya alam kamu dijual kepada kami, tentu kamu mendapat persen yang tidak sedikit. Bunuh saja mereka semua tidak usah takut dengan tekanan internasional karena tekanan itu akan ada kalau pemerintah kami menginginkannya. Bagaimana dengan kelompok agama ?,' tanya jenderal kardus. 


Kelompok pemuka agama yang banyak mulut membela rakyat dengan tindakan nyata adalah kamuflase saja. Intinya mereka ingin berkuasa, apa kamu mau bergantian berkuasa ?. Pakai saja tokoh agama yang mau menurut apa kata kita. Ini penting. Karena mereka punya basis massa yang sangat loyal. Pakai kelompok agama yang menolak kaum bohemian, kaum bohemian tidak mengenal agama mereka orang bebas. Mereka tidak mau bekerja untuk orang lain, mereka hanya mau bekerja kalau cocok dihati mereka saja. Apalagi mau menyembah tuhan yang kita kenal. Mereka hanya bicara dunia khayalan yang mereka inginkan, mabok, bernyanyi. Mereka mengkhayal tentang manusia yang tidak menginginkan harta kekayaan, kemewahan. Mana ada manusia model itu di dunia ini, semua manusia mencari harta dan kekuasaan. Hanya karena mereka belum pernah berkuasa, bicara sok idealis. Coba kalau mereka diberi kesempatan berkuasa, pasti akan rakus juga.
Sebagian kaum beragama tidak suka cara mereka ini, karena akan membuat agama terlihat konyol. Kelompok agama yang ini saja yang kamu pakai untuk menopang kekuasaanmu. Karena tidak semua umat beragama menolak mereka, kelompok ini juga berpontensi jadi lawan kita.


Tapi kami meminta kamu jangan korupsi, itu tidak baik untuk kekuasaanmu, juga untuk kami. Kamu ambil saja bagianmu, itu lebih dari cukup.

Sang jenderal yang gila harta ini manut - manut saja kepada bos besar uang dunia yang bisa menentukan siapa presiden yang mereka inginkan di negara lain. Presiden yang bisa mereka atur menuruti kemauan bisnis mereka. Negara kecil menjadi pasar dari produk - produk siap pakai mereka, bahan dasar dari produk itu seperti besi, aluminium, tembaga, plus minyak untuk bahan bakarnya mereka dapatkan dengan murah dari negara boneka ini dengan harga murah. Presiden yang ingin membela negara tidak akan bertahan lama. Karena akan mereka turunkan dengan cara halus dan cara kasar. Bisa dengan mendekati lawan politik dengan anggaran yang tidak ada batasnya. Mengingat sumber daya alam sebagai gantinya, bernilai tidak terhinga. 

Kalau presiden yang sangat mencintai negaranya kelompok kaya ini bersama perangkat negara mendekati lawan politiknya. Tidak perduli dari kelompok mana yang penting bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan presiden berkuasa. Bahkan kelopok teroris sekalipun tidak masalah jadi sekutu yang penting keinginan tercapai. Di kemudian hari kelompok teroris ini jadi masalah bagi penguasa baru sekutu mereka ini, mereka tidak perduli yang penting bisnis jalan.

Sudah ribuan lawan kita bunuh pak,' kata komadan jagal, Bagus !,laksanakan terus,' perintah Jenderal kardus denga senyum. Jangan lupa kelompok yang selama ini mendukung presiden walau mereka bukan target kita, karena kemudian hari mereka akan menganggu kekuasaan kita.


Rabu, 06 Maret 2019

Equal before the Law



" Tuk ! Tuk ! Masuk !,' suara tegas berwibawa dari dalam ruangan.
Siang pak,' ada laporan masuk, melaporkan pak Ali. Dia memukul anak buahnya, sekarang anak buahnya lapor ke sini,' kata Sersan polisi.
" Mana orangnya biar saya lihat, bawa sini,' perintah kepala satuan.
Kenapa kamu dipukul oleh pak Ali ?,' tanya kepala satuan anti krimininal. Yang juga sahabat dekat pak Ali seorang juragan kaya yang royal kepada teman - teman Polisi.
Saya hanya terlambat membuka gerbang rumah pak,' jawab Udin.
" Kenapa bisa terlambat ?,' sidik kepala lagi.
Saya sedang beres - beres di belakang rumah jadi tidak terdengar bunyi klaksonnya pak,' jawab Udin.
" Kamu salah, kamu harus tahu jam berapa bos kamu pulang,' kata kepala satuan anti kriminal lagi.
Pulangnya tidak tentu beliau pak,' jawab Udin.
" Kamu tetap salah, tidak tanggap kepulangan bosmu.


Bapak kepala satuan anti kriminal sudah seperti Hakim dengan cepat memutuskan orang melaporkan penganiayaan kepada dirinya: bersalah.
Sudah terlalu sering dia menganiaya saya pak, saya sudah capek, saya minta keadilan pak,' kata Udin lagi.
" Ada yang melihat kamu dipukul ?,' tanya kepala.
Tidak ada pak,' jawab Udin.
Jadi bagaimana kita mau sidik kalau tidak ada saksi ?,' tanya kepala lagi.
Saya tidak tahu pak, itu urusan kalian untuk menyelidikinya, saya rakyat biasa cuma bisa mengadu.
Kalau tidak ada saksi bagaimana mau diteruskan ?
Jadi kalau tidak ada saksi tidak bisa di sidik ya pak ?
Bisa disidik tapi sulit dibuktikan, kamu buang - buang waktu saja. Kami juga tersita waktunya.
Oh begitu ya pak ? tidak bisakan kalian sedikit berupaya untuk membuktikan ?. Atau saya harus menerima begitu saja nasib ini ?
Iyalah !,' jawab kepala cuek.

Udin pun kembali ke rumah tuannya dengan satu ide segar, ketika sang tuan Ali tidur malam, Udin menggorok lehernya sampai putus. Kepala satuan anti kriminil sibuk karena pak Ali adalah teman baiknya. Istri Ali merengek rengek minta bapak kepala satuan bertindak. Baik karena sering memberi uang, kalau tidak kaya tidak juga disenangi oleh bapak kepala.
Bawa si Udin ! perintah kepala kepada sersannya, baik pak, ' jawab Sersan sambil menarik Udin,
Ada apa ini pak,' tanya Udin pura - pura bingung.
Kamu ikut ke kantor nanti dijelaskan di kantor,' kata Sersan.
Kamu membunuh pak Ali pakai apa ?,' tanya kepala satuan.

Menyidik seorang pembantu rumah tangga tidak perlu repot - repot pakai aturan. Main tuduh main siksa tidak masalah, dia tidak punya uang menyewa pengacara, dia tidak punya kenala pejabat polisi dikantor pusat.
Bukannya pak Ali harus melapor dulu pak ? bukannya dia harus cari saksi dulu.
Mana mungkin dia melapor sudah mati kok.
Berarti bapak Ali harus cari saksi dulu baru saya di panggil,' kata Udin kalem plus bego.
Mana mungkin dia hadirkan saksi,' teriak kepala satuan.
Kalau begitu saya tidak bisa diperiksa pak, dulu laporan saya harus ada saksi ? Kamu ini banyak bacot juga ya ?,' kata kepala.
Saya mengikuti kata - kata bapak, berarti bapak yang banyak bacot,' kata Udin polos.
Kamu akan saya tahan !.


Sersan sudah mencari bukti, saksi, tidak ada yang mengarah ke Udin. Kita harus melepas Udin pak, tidak ada yang bisa memberatkan dia. Kita bisa kena pra pradilan,' saran Sersan. Ya sudah kalau begitu, hebat juga anak itu ya, atau memang bukan dia pelakunya ?,' kata kepala, tugas kita hanya memaksimalkan semua bukti pak, kalau dia bebas dari hukum dunia akan ada hukum akhirat untuk dia,' sahut Sersan. Kehilangan seorang Ali bagi bapak kepala bisa berarti mala petaka bagi kariernya. Karena pak Ali bagai seorang donatur bagi setiap upaya - upaya suap untuk atasannya yang korup yang suka meminta uang dari bapak kepala satuan bawah.

Istriku spionase


Saya menapaki karier di dapartemen pertahanan dengan semangat, semua tugas yang dibebankan kepadaku. Aku selesaikan dengan cemerlang, aku sangat berharap karierku sampai di puncak. Aku sangat beruntung punya istri yang sangat mendukung karierku. Dia sangat handal di dapur, diranjang, begitu juga kalau berbicara di depan teman dan atasanku juga sangat menawan. Semua suka padanya, selain cantik dia juga sangat cerdas. Terkadang timbul rasa khawatir kalau dia direbut orang karena dia sangat menawan bagi banyak pria normal. Apalagi kalau mereka sampai tahu bagaimana lihainya dia diranjang. Bisa jadi mereka membunuhku demi mendapatkan Rina istriku tersayang.
Ketika jabatanku mandek dia bisa mendekati ibu kepala pusat, beberapa hari kemudian keluar surat keputusan kenaikan jabatanku. Jenderal Sumpeno lemas dihdapan para pemeriksa hanya sisa sisa ketegarannya sebagai tentara saja yang tertinggal.

" Ibu Sumpeno takut tidak kalau sampai kita perang dengan negara lain ?,' tanya atasanku.
" Mati itu kan satu kata pak, mati sakit, mati kecelakaaan, mati berperang, cuma satu kata : berakhirnya hak kita hidup di dunia.
' Hehe..ibu sudah seperti prajurit juga ya ? tidak merisaukan kematian tidak sia - sia ibu tidur bersama prajurit terbaik kami.
Uji nyali wanita diantara para prajurit, membuat para prajurit kagum kepada Rina. Tapi Rina selalu lihai memutar kata demi kata yang membuat para petinggi departement pertahanan itu tetap merasa nyaman, tidak merasa direndahkan oleh seorang wanita. Ego maskulin mereka sangat tinggi sebagai prajurit penjaga negara. Rina selalu memperlakukan mereka dengan penuh hormat kepada pria sebagaimana kebiasaan budaya Timur.
" Ibu tentu sangat mendukung karier pak Sumpeno ?
" Tentu bapak kepala saya, akan melakukan apa pun demi beliau,' sahut Rina.
" Apapun !?,' kejar bapak kepala.
" Apapun pak,' tegas Rina lagi,
" Termasuk membunuh saya demi kenaikan jabatan suamimu ?
" Hmmm..Rina hanya senyum manis memanja yang malah menggoda kelelakian bapak kepala. Lelaki normal manapun akan terpesona kalau melihat Rina seyum mesra dan manja, seolah mengajak lawan bicaranya segera ke kamar tidur.

Di tengah rezim yang korup ini ada saja oknum pejabat tinggi yang mata duitan, yang harus dilalui selama karierku.  Sekali ini aku rasa Rina akan gagal mempesonanya karena dia tidak tertarik wanita. Dia lebih birahi melihat tumpukan uang dan lembar saham di perusahaan kelas atas. Ajaib ! Rina berhasil meluluhkannya juga.
Apa Rina menyuapnya dengan tabungan kami ? tapi apa cukup ? darimana Rina mendapat uang banyak ?
" Bagaimana mama bisa meyakinkan bapak kepala ?,' tanya Sumpeno heran.
" Biasalah pa, mama cuma cerita bagaimana papa sampai lupa an Anak istri demi tugas. Terus mama bilang,' kami di rumah tidak masalah pak, kami sudah biasa ditinggal, kami yakin kok suamiku sayang kami, gitu aja pa. Makanya papa harus tetap rajin kerja. Soalnya mama sudah katakan begitu.
" kalau soal itu mama tidak usah khawatir, papa mah siap terus demi tugas. Bapak kepala tidak minta uang ? atau pesan - pesan yang mengarah ke sana ma ? 

" Ya adalah pa, orang kayak gitu mah sangat doyan uang.
" Terus ?,' kejar Sumpeno.
Ya mama janji saja, yakinlah pak, suami saya sangat loyal kepada atasan, kalau ada uang pasti dia kasih. Matanya langsung berbinar gitu pa, mendengar uang. Hahaha...mama memang handal.
Iya dong demi papa, yang penting papa harus tetap setia sama mama. Pasti dong sayang,' jawab Sumpeno, sambil mencium kening Rina.

Papa ada tugas ke luar kota ma,
Ohya pa, berapa hari ? paling tiga hari ma.

Jangan nakal diluar ya pa, awas kalau nakal,' kata Rina.

Iya ma, mana ada wanita yang bisa mendandingi mama.

Ih gombal,' teriak Rina.
Kamu nyaman dengan tugas ini sayang ?,' tanya Yoga kepada Rina di kamar hotel Miracle lantai tiga.
Lebih nyaman bersama kamu sayang,' jawab Rina.
Sabarlah sayang sedikit lagi informasi mungkin kamu sudah bisa kembali ke saya.
Iya deh,' jawab Rina.
Tapi kamu menikmati kan tidur bersama Sumpeno ?
Aku tidak lagi tahu yang mana nyata yang mana penyamaran sayang, kalau aku kaku penyamaranku bisa terungkap. Kalau aku serius kamu pastu marah.
Dunia spionase memang begitu sayang, aku juga tidak tahu kamu sudah digalang oleh Sumpeno ? atau masih setia kepada negara kita. Karena perlakuanmu kepada saya dan kepada Sumpeno sama kan ?

samalah sayang,' sahut Rina, itu kan tuntutan tugas. Tidak bisa dibedakan pesona Sumpeno dgn Yoga, keduanya cerdas, ganteng, berkuasa. Rina bingung ? atau menikmati kedua pria itu ? dalam jiwa Rina tertanam jiwa petualang. Dunia siopnase adalah jawaban dari hasrat berpetualangnya. Rina wanita cerdas, energik dan cerdas. Dengan mudah menerima pinangan Sumpeno. Tapi jiwa petualang dia mengantarkan dia mengenal banyak orang. Termasuk Yoga yang meminta dia mengabdi kedapa negara leluhurnya. Menjadi menarik jiwa petualang Rina. Dia mudah saja mendapatkan pria pria sekelas Sumpeno dan Yoga. Semua pria enteng saja di mata Rina karena kecerdasan dan jiwanya yang liar. Semakin hari semakin tinggi saja jabatan yang diemban oleh Sumpeno. Sehingga akses ke file rahasia negara semakin mudah diakses oleh Rina. Mengantarkannya kepada Yoga di kamar kamar panas yang di sepakati untuk bertemu.

Dia berhasil mengambil semua data - data rahasia negara dari laptop saya. Kalau kalian menghabisinya ? tolong tanyakan, apakah cinta kami juga palsu ?.
Baik pak,' akan saya tanyakan kata pemeriksa kepada Sumpeno.
Kami kira pemeriksaan untuk anda sudah cukup hari ini. Nanti kami akan panggil lagi kalau diperlukan.
Baik pak,' kata Sumpeno.

Sudah berapa lama anda bekerja untuk dinas rahasia negara Kantiks Island ?
Rina diam..
Siapa kontak anda ?
Rina diam..
Sepertinya kami harus pakai cara - cara intelijen : penyiksaan. Sayang sekali wajah dan tubuhmu yang indah ini harus kami rusak. Sebaiknya kamu mengaku saja.
Saya mau mengakui semua kalau suami saya bisa hadir menyaksikan pemeriksaan ini.
Tidak bisa, dia juga sedang diperiksa. Lagian apa hubungan kalian nyata ? bukannya semua hanya skenario kalian saja ?.
Berarti kalian lebih memilih cara purba daripada cara manusiawi. Kita sama - sama orang intelijen. Apakah kalian tidak punya perasaan nyata ? seperti kepada anak istri kalian ?

Itu beda,' sahut pemeriksa.
Apakah kalian tidak pernah membayangkan wanita lain di ranjang kalian ?
Situasi saat ini anda yang diperiksa bukan kami.
Bisik bisik kedua pemeriksa tidak bisa didengar oleh Rina, tapi bahasa tubuh mereka menunjukkan respect pada peryataan Rina.

Baiklah, kami mengikuti kemauan anda,' jawab pemeriksa. 

Tatap mata Sumpeno begitu kosong melihat Rina duduk di kursi pemeriksaan. Dia seperti sedang bermimpi di siang bolong.

Hai sayang,' buka Sumpeno,
Hai sayang,' jawab Rina penuh senyum.

Untuk apa kamu lakukan semua ini sayang ?
Untuka apa kamu menapaki karier di dapartement pertahanan ?
Untuk masa depanku, untuk harga diriku,' sahut Sumpeno.
Saya pun demikian sayang, saya butuh satu karya dalam hidup saya, kamu melarang semua aktifitas apapun yang saya inginkan, kamu terlalu takut saya menyaingi kariermu. Kamu egois, kamu meruntuhkan semua pendidikan saya yang cemerlang. Saya berhasil meraih semua nomor yang diinginkan banyak orang; nomor satu dalam setiap pendidikan saya. Hanya karena kita harus menerapkan budaya Timur. Istri haru di rumah. 
Tapi kamu tidak kekurangan apapun hidup bersama saya,' tanya Sumpeno lagi.
Sebelum kenal kamu juga saya tidak kekurangan apa - apa, justru sejak bersamamu saya seperti bukan diri saya lagi. Setiap kali saya utarakan niat saya berkarier, kamu selalu menolak. 
Apakah kamu masih mencintai saya ?,' tanya Sumpeno lagi.
Saya selalu mencintamu dari dulu sampai sekarang,' kata Rina.    
Terus kenapa kamu tega mengkhianati saya ?,' tanya Sumpeno.
Saya tidak mengkhianatimu, saya hanya perang melawan negaramu.
Sama saja, saya dan negara saya adalah satu kesatuan.
Sampai kapan, sampai kamu pensiun ? sampai atasan korupmu itu tidak perlu kamu lagi ? apakah mereka tidak lebih pengkhianat ?,' kejar Rina. Mereka sibuk mencari keuntungan pribadi dari jabatannya, kamu setia sampai mati membela mereka. Yang bekerja dengan kami bukan hanya saya, masih ada beberapa agen lain yang mendekati pejabat negara kalian, dengan iming - iming uang saja, mudah sekali menghancurkan negara kalian. Tapi kami sengaja tidak menghancurkannya karena akan memicu munculnya pemimpin nasionalis yang nantinya sulit kami dikte.

Minggu, 03 Maret 2019

Jatuhkan dia



Bapak Presiden yang biasanya sangat kalem di depan umum terlihat sangat gusar, karena keluarganya diciduk oleh badan anti korupsi. Dia sudah keterlaluan ! dia tidak lagi mengerti budaya kita yang saling menegerti, saling menghargai, dia sudah seperti bangsa Barat yang terbuka apa adanya, kita tidak begitu, kita bangsa Timur yang berbudaya. Semua dia penjarakan. Dia tidak lagi melihat saya sebagai kepala negara.
" Apa yang musti kita lakukan pak ?,' tanya Herman staf khusus.
Saya mau singkirkan dia !
" Dengan cara apa pak ?,' tanya staf khusus lagi. dengan wajah dingin sarat pengalaman intelijen.
Dengan cara yang paling elegan : hukum.
" baik pak, saya minta waktu, nanti akan saya laporkan hasilnya.
Laksanakan dengan rapi, jangan sampai nama saya terikut ikut, bagaimana saya bisa melindungi kalian kalau saya sendiri dalam keadaan terbuka ?
" baik pak, saya faham,' kata staf khusus sambil berpaling pergi.

Bapak presiden ingin dia tersingkir dengan rapi, jangan libatkan bapak Presiden, ini semua operasi intelijen,
" akhir - akhir ini dia sedang menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan pengusaha bernama Zulfan, bahkan Zulfan sangat risih dengan dia karena istri keempat Zulfan dekat dengan dia. Kabarnya istri keempat Zulfan memegang hotel tempat si Roby sering nginap,' kata staf intelijen.

Sejauh mana kamu tahu hubungan dia dengan istri keempat Zulfan ?
siapa yang bisa tahu pak ?, menurut hukum hubungan zinah itu bisa dibuktikan dengan sperma, pakaian dalam, saksi, atau video, siapa bisa mendapatkan itu pak ? apa saya harus menyamar jadi pegawai hotel ?
Tidak perlulah, saya hanya memastikan saja, hubungan gelap itu hanya untuk media saja, tujuan kita dia masuk penjara atau mati.
coba hubungi kepala polisi di tempat Roby pernah jadi jaksa, siapa tahu dia punya petunjuk.
baik pak,

Roby adalah ketua tim anti korupsi yang garang memenjarakan banyak pejabat, termasuk keluarga Presiden, popularitas dia luar biasa, pemilihan Presiden dua tahun lagi. Kalau dia terus dibiarkan menikmati pujian media ? bisa dipastikan Presiden berkuasa sekarang akan kalah. Mengingat tren politik negeri Indo Malaya adalah: korupsi, siapa yang anti korupsi dia yang akan populer. Memang dia bukan berasal dari suku mayoritasm, tapi bisa dipastikan Presiden sekarang akan kerepotan kalau dia sampai maju pemilihan Presiden.

Mantan kepala Polisi yang pernah bekerja sama sat wilayah dengan Roby memberi kabar baik pak,' kata styaf intelijen,
oke, mari kita diskusikan bersama kopi,'
 kata staf khusus Presiden.
Wanto menawarkan eksekusi oleh teman - temannya dari dunia hitam, mereka pernah bekerja sama dalam bisnis narkoba dan judi sewaktu Wanto jadi kepala polisi daerah kota laut. Dia yang atur eksekusinya, di bawah Wanto ada dua tingkat lagi ke bawah, penerima oreder dari Wanto, terus ke eksekutor lapangan yang eksekusi langsung dengan senjata api, sangat jauh sampai ke kita apalagi sampai ke bapak Presiden.
Bagian itu sudah clear sekarang kita hubungi lagi Handy, apa yang sudah dia kerjakan dalam mendekati Roby dan Zulfan untuk menysusun skenario, intel tidak aktif mudah masuk ke semua lini, dia lagi banyak kendala dalam bisnisnya akhir - akhir ini. Dia pasti sangat butuh uang. Kena karma kali ya ?, iya kali pak, nanti juga ada gilirannya kita yang kena karma pak,' kata staf intel, hahahah...kamu takut ?,' tanya staf khusus Presiden, saya lebih takut tidak bekerja pak, hahaha... saya juga begitu,' kata staf khusus.

Handy berbincang santai denga Roby di telepon, pak Roby, anda lagi diincar Zulfan karena dekati istrinya, kebalik kali mas, istri dia yang dekati saya.
hahaha....' keduanya tertawa lebar.
" wajar juga sih pak, istri dia ada empat kapan dia bisa mengurus semua ? mending kayak kita, beli sate buang bungkusnya.
" hahaha..... kedua tertawa lagi,
" hangat gak  si Yani pak ?,
ah kamu bahas itu di telepon, kamu cepat saja kemari letakkan handphonenya, biar nyupirnya cepat
" hahaha.....iya pak, ini mau diletakkan handphonenya, tapi jawab dulu pak, hangat gak si Yani, ?
hangat,' kata Roby penuh perasaan.
" sanggup gak memisahkan bapak dari istri ?
ya sangguplah, tapi mana mungkin saya ceraikan istri saya, bisa merusak image saya sebagai calon Presiden,' jawab Roby.
" pak Zulfan itu cemburuan lo pak, dia bisa marah besar kalau sudah tahu pasti hubungan ini, dia bisa membunuh bapak karena cemburu.

apa kamu kira saya tidak bisa membunuh ?
" bapak itu penegak hukum, mana mungkin bisa membunuh
kalau terpaksa bisalah,
" pakai apa bapak membunuh dia ? pakai badik ( senjata tajam ) kayak dikampung.
tidaklah, pakai pistol dong,
" bapak sendiri yang akan menembak ?
tinggal sewa oranglah,
" saya bisa bantu bapak menembak dia, kita hubungi teman - teman dan dor, selesai.
hahahaha..keduanya tertawa lebar di telepon genggam.

Wanto ditekan oleh atasannya untuk melancarkan operasi melenyapkan Roby dari jabatan ketua anti korupsi. Dengan iming - iming promosi jabatan. Kamu laksanakan dengan rapi To,
" Baik pak, tapi saya minta promosi jabatan pak.
Gampang itu mah, kalau saya bisa memuasakan Presiden berarti kamu juga akan dapat imbasnya,' kata Jenderal.
" Terimaksih pak,' kata Wanto.
Tapi ingat jangan bawa nama saya, bagimana saya melindungi kamu kalau saya dalam posisi tanpa pertahanan, tapi ini pasti aman, karena istana yang punya keinginan, paling eksekutor yang masuk penjara, nanti kita bantu anak istrinya.

Pembunuhan, pembunuhan, pembunuhan, berita di TV nasinal dan koran - koran utama, pembunuhan seorang pengusaha nasional yang diduga kuat karena masalah asamara dengan ketua anti korupsi. Para pengamat kriminil ramai menuai rezeki hadir sebagai narasumber di TV nasional.  Penyidikan gencar dilaksanakan polisi, kepala humas kepolisian semakin populer karena hampir setiap hari muncul di media menjawab pertanyaan wartawan.

Kasus yang jadi atensi publik cepat dirtespon oleh polisi karena akan menyangkut kredibilitas kepolisian. Dalam seminggu disimpulkan pelaku amatir yang mengakui semua perbuatannya dan siapa saja yang terlibat. Sebenarnya mereka bukan amatir, sudah biasa mereka melakukan aksinya dan tutup mulut terhadap aktor intelektualnya. Rupanya Handy sebagai operator lapangan menyuruh mereka buka mulut dengan tawaran uang dan kemudahan di penajara. Tujuannya tentu saja untuk meneruskan penyidikan ke ketua mereka, Komisaris Wanto, dan Handy sendiri ( mengakui pernah ditelepon oleh Roby bagaimana cara menyingkirkan Zulfan, bukti rekaman teleponnya dengan Roby yang sudah diedit ) dan target utamanya ketua pemberantasan korupsi : Roby. Roby yang sangat ahli dalam memahami politik dan hukum, santai saja melihat semua konspirasi ini, begitu juga Hnady, yang agak gusar hanya Komisaris Wanto, yang tidak menyangka nama dia juga harus dilibatkan, karena sesuai janji jenderal cukup sebatas eksekutor saja, telepon dia ke jenderal tidak diangkat, sampai saat handphone dia harus disita karena peraturan penjara.

Staf khusus meramu berita di media seolah ini semua adalah nyata.
Kerja yang bagus,' kata Presiden.
Handy hanya kena kesalahan, tahu tapi tidak lapor. 

Sabtu, 02 Maret 2019

Putri raja Indo Malaya



Kedua remaja beda kelas itu saling melirik, darah muda begitu menguasai masa pubertas mereka. Sayang kelas sosial menghalangi cinta keduanya. Walau cinta tidak melihat status sosial tapi kekuasaan, dan kelas sosial, tidak mentolelir hal itu.


Kamu hanya perajurit dua prajurit ! pangkat terendah didunia, kamu harus tahu diri mendekati wanita yang mana, dia anak Presiden kamu hanya petugas jaga istana, termasuk saya," teriak komandan jaga,
Kami hanya ngobrol biasa komandan, tidak etis juga kalau saya menghindar ketika anak Presiden mengajak bicara, saya sudah katakan mau pamit melaksanakan tugas, dia bilang nanti dia bicara sama " om Budi " bapak kepala pengawal, dia lagi galau tidak ada teman bicara remaja yang seusia dia, kami hanya bahas romatika remaja komandan, tidak lebih,' kata Doni.
Satuan intel melihat kamu sudah lebih dari itu, kamu tahu kita bertugas dimana ? di lingkar kekuasaan nomor satu negeri ini, semua diawasi disini. Tukang kebun, tukang masak, tikus, kucing, yang masuk halaman istana saja harus diawasi. Kamu usahakan menghindar kalau bertemu dia, cari yang lain saja teman bicara atau kamu harus mutasi ke tempat lain,' saran komandan jaga.

Prajurit dua Doni baru berumur 23 tahun dia prajurit termuda di kalangan pengawal Presiden, dia lulusan terbaik satuan elit diangkatanya, kalau bukan karena pangkatnya dia sangat layak berpacaran dengan si Tuti anak ketiga presiden berkuasa yang baru kelas tiga SMA. Doni cukup ganteng, bahkan cukup untuk jadi bintang film action, para pengawal presiden memang harus " good looking " karena akan sering tampil di kamera. Penampilan pengawal presiden bisa menunjukkan image politik sang Presiden. Wanita seusia Doni tidak akan mampu berkata tidak suka melihat Doni, pendidkan militer yang keras, protokoler istana membentuk dia semakin ganteng dan berwibawa.
Cinta membuat orang tidak kenal takut, pertemuan Tuti dan Doni semakin hari semakin dekat, ini zaman yang belum mengenal; handphone seperti zaman ini, mereka harus bertemu di suatu tempat yang membuat risih komandan pengawal dan satuan intel. Kalau saja hubungan ini di zaman ini pasti mereka lebih mudah bersembunyi di salah satu aplikasi komunikasi yang di tawarkan smartphone. Tentu hubungan ini tidak perlu jadi tugas penyelidikan aparat negara, mengingat banyak tugas lain yang lebih penting. 

" Siang om,' sapa Tuti manja kepada Prajurit dua Doni, petugas pengawal istana, siang Ti, ' jawab Doni senyum, berbeda sekali mimik wajahnya kalau menyapa komannya, siang komandan ! dengan lantang dan tegas tanpa senyum, bahkan kalau senyum bisa membuat marah pak komandan, kamu kayak politikus saja murah senyum !, tapi menyapa Tuti membuat senyum terbaik Doni muncul, maklum saja selain cantik dan cerdas, Tuti juga sangat ramah kepada semua petugas istana. Dia bagai cahaya di istana kepresidenan yang menentukan semua arah kebijakan negeri Indo malaya. 
Bapaknya sudah bekuasa selama 20 tahun di negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam dan ragam budaya yang beraneka warna membangun kemegahan negeri besar itu. Negeri yang mengundang banyak bangsa lain untuk sekedar menikmati alamnya, berbisnis, bahkan berkuasa atas sumber daya alamnya dengan melobi pejabat negara yang mudah menerima suap. Sedikit upah dari pengabdian kami selama ini,' bathin para penguasa itu. Padahal sumpahnya setia dan taat melindungi negaranya dengan iklas. Tapi kalau sudah dihadapkan sama uang lupa semua sumpah dan janjinya.Om Doni lagi apa,' tegor Tuti kepada Doni yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar dan rindang dihalaman belakang istana. 

Entah sudah berapa ratus tahun pohon itu berdiri disana. Sedang mikirin ceweknya ya,' ejek Tuti sambil memamerkan gigi indahnya, eh Tuti, tidak Tut, lagi kangen kampung aja, ooh berarti ceweknya di kampung ya ? ,' ejek Tuti lagi, hehe..Donu jadi teringat masa masa di kampungnya menggodain gadis gadis bersama teman - temannya, kalau sendiri Doni tidak berani juga, dia pemuda yang dingin kepada lawan jenis, dia lebih bersemangat mengejar bola di lapangan daripada mengejar gadis. Tapi pesonanya membuat gadis - gadis yang latah menggoda dia, seperti yang dilakukan Tuti sore ini. Entah angin apa yang membuat Tuti latah menegor manja, sedikit genit untuk ukuran budaya Indo Malaya beda dengan remaja lain di belahan bangsa Barat.

Tuti menggoda layaknya anak remaja yang lagi nongkrong di persimpangan jalan. Karena statusnya sebagai anak Presiden berkuasa membuat Tuti tidak sebebas remaja lain nongkrong di tempat yang dia sukai. Sangat tidak salah kalau rindu dengan sosok remaja pria sebagai teman bicara, sangat tidak salah pula kalau Doni yang menarik perhatianya. Bisa dikatakan Doni adalah salah satu pemuda terbaik negeri Indo Malaya, sangat layak bersanding dengan putri raja modern seperti Tuti. Di masa lalu juga raja suka membuat sayembara ketangkasan untuk menyeleksi pemuda - pemuda terbaik di negerinya untuk dijadikan pengawal, pegawai istana, bahkan jadi menantu raja. Emang om Doni kampungnya dimana ?,' tanya Tuti lagi, di sebuah desa yang indah permai diatas gunung, di sana ada sebuah danau yang indah, kalau kamu belajar geografi seharusnya tahu, hmmm...aku tahu om, desa suka jati, hahahahaha...kedua remaja itu tertawa lebar, di bawah mata - mata tajam agen intelijen, orang tua om Doni masih hidup dua duanya ? masih Tut, nanti aku liburan ke sana, ' kata Doni lagi, eh pengen juga ikut om Doni lihat desa Suka jati, tinggal ngomong saja sama bapak kepala pengawal istana, nanti beliau sampaikan ke bapak presiden, Tuti pengen lihat desa om Doni dan lihat cewek om Doni juga, hahahha..saya belum punya pacar Tut, eng ing eng..hati Tuti berbunga melihat adanya peluang, tapi sebgai putri kerajaan Tuti menunjukkan kelasnya dengan tidak menunjukkan sikap senang yang berlebihan. 

Dia berusaha kalem saja. Masak sih tidak ada om ? berarti om Doni tidak laku dong ? hahaha..keduanya tertawa lebar lagi. Tuti sendiri sudah punya pacar ? muka Tuti merah, belum om bagaimana mau kenal cowok jalan saja terbatas, berarti Non Tuti juga tidak laku..? hahahaha..keduanya tertawa lagi menggetarkan daun - daun pohon beringin. 

Bapak presiden sedang memeriksa berkas di mejanya, Tut, sini bentar,' katanya kepada Tuti yang lewat ruang kerjanya, iya pa, duduk dulu nak ( tanpa di suruh duduk juga Tuti sudah duduk, emangnya staf istana ? kalau belum dipersilakan duduk tidak berani duduk ), iya pa, kamu akhir akhir ini sering ngobrol sama Doni ya, tidak juga pa, kebetulan saja kalau jumpa kadang ngobrolnya bisa lama, ada saja yang mau diobrolin, kamu suka dia Tut ? hmm..suka pa, kamu ada cinta dia ? ah papa mah ada - ada saja, dasar orang zaman dulu kolot sekali..dekat sedikit saja langsung dikatakan cinta, kalau anak muda sekarang tidak begitu pa, kalau zaman papa dulu iya kali,' kata Tuti,
urusan cinta sepertinya sama saja nak, dari zaman dulu sampai zaman sekarang, hanya beda di basa basinya saja, kalau dulu kami basa basinya hanya di tempat umum saja, tidak seperti zaman kalian berduaan saja tapi tidak mau katakan tujuannya, ' kata pak Presiden.
ah papa mah paranoid kayak negara kita mau diserang nuklir saja oleh negara tetangga,' kata Tuti. maksud papa kamu tidak boleh jatuh cinta sama dia, jadi jangan terlalu sering ketemu dia nanti malah tumbuh cinta,' perintah pak Presiden.
" kok gitu pa ? kalau bicara di depan umum papa selalu berkata,' terbukalah kepada semua orang sebelum kamu memutuskan berteman atau tidak, semua orang punya alasan dalam hidupnya, masalahnya alasan itu bisa kita terima atau tidak ? kok sekarang saya dilarang bicara dengan keluarga kita sendiri ( papa sering mengatakan seluruh orang di istana adalaga keluarga kita ), bahkan seluruh rakyat negeri Indo Malaya adalah keluarga besar kita ?. 

" Apa kata orang nantinya kalau kamu berhubungan dengan pengawal ?,' kata Presiden. 
" Emang kenapa pa ? bukankah cinta sama saja bagi semua orang ? lagian kami tidak ada apa - apanya kok pa, papa terlalu cepat papa ambil sikap, kami hanya teman ngobrol,' kata Tuti jengkel.

" Itu artinya ada kemungkinan kamu jatuh cinta sama dia Tut ?,' tanya pak Presiden.
" Ada pa," sahut Tuti mantap.

" Baiklah kalau begitu,' selamat malam,' kata pak Presiden sambil mencium pipi anak gadisnya.
" Malam pa," sahut Tuti yang belum hilang kesalnya. 

Malam itu di lewatkan Tuti sambil melamun, dia tahu papanya sulit untuk di debat, pasti akan ada cara - cara yang dilakukan papanya untuk memenuhi keinginannya, dia seorang pemimpin politik terkuat di negeri ini, tidak mungkin dia kalah. Tapi Tuti juga sangat faham sikap bapaknya kalau sudah menyangkut cinta, dia sangat faham cintalah yang membangun kekuatan yang tiada tara. Sejak awal karier politiknya dia sangat mengandalkan cinta, di saat lawan - lawan politiknya mengandalkan uang untuk membeli suara pemilih. Uang tidak mampu membeli seluruh cinta anak negeri ini. 
Musim ujian sekolah sudah usai semingu lamayan dirinya fokus sama buku dan buku, membuat Tuti terlihat lebih santai di halaman istana tidak lupa sesekali melirik ke pos pos tempat para pengawal biasa bertugas, dan juga pos pos tempat mereka sering bersantai. Sudah setengah jam berputar putar dengan sepedanya " kok Prajurit dua Doni tidak terlihat di halaman istana, atau di pos jaga, rasa hati yang sedang puber membungkam semua rasa malu, rasa takut sama tegoran bapaknya, 

" Om, katanya kepada salah satu pengawal istana. 
" Iya Tut, ada apa,' jawab prajurit itu.

" Om Doni tidak tugas ?,' tanya Tuti.
" Doni sudah pindah ke perbatasan Tut, sudah seminggu,' sahut pengawal.

" Loh kok, ada apa ? dia ada masalah ?,' pertanyaan beruntun bagai senapan otomatis kelaur dari mulut Tuti.
" Tidak tahu Tut, urusan komandan,' sahut pengawal.

" Oh iya deh om,' sahut Tuti sambil memutar sepedanya, menuju ruangan bapaknya," papa !, kok papa memindahkan Doni ?
" Jangan teriak - teriak sebelum tahu masalahnya,' kata presiden.

" Ini pasti perintah papa,' teriak Tuti lagi,
" Papa ini presiden berkuasa Indo Malaya, bukan pejabat personalia militer,' kata presiden.

" Ini pasti perintah papa, papa tega ! papa tidak tahu perasaan saya, papa sudah buta oleh kekuasaan,' teriak Tuti lagi.
" Pak Presiden menekan tombol di mejanya, untuk memberitahukan ajudan,' mengarahkan ibu negara merapat ke ruangan kerja presiden. Ibu negara cepat sampai ke ruangan Presiden,' benar kata papamu Tut, kamu sebaiknya jaga martabat orang tua mu,' Ibu negara. 

" Apa aku juga harus berkorban demi orang lain ? aku bukan Presiden aku bukan ibu negara yang harus berkorban untuk orang lain, aku hanya remaja yang butuh teman ma, kalian tidak ada waktu untuk saya, Pak Presiden menekan lagi tombol di mejanya untuk mengarahkan komandan jaga Kapten Prapto merapat ke ruangannya, perwira ganteng yang masih lajang itu secepat kilat sampai ke ruangan Presiden,' menunggu perintah pak Presiden ?,' kata Kapten Prapto berdiri tegak di depan Presiden, coba kamu temani Tuti jalan - jalan bawa anak buahmu, dia perlu refresing, kamu mau Tut ?,' tanya Presiden, " Seperti perlu pa," sahut Tuti. 
" Ayo non kita jalan,' kata Kapten Prapto penuh hormat kepada Tuti. 

Dua kendaraan lapis baja meluncur keluar istana, satu di isi Kapten Prapto dan Tuti, satu lagi berisi empat orang pengawal presiden dengan sepanan otomatis yang mampu berperang satu hari penuh melihat banyaknya jumlah amunisi yang mereka bawa, padahal kalau mampu bertahan kontak senjata selama satu jam saja ?, bantuan akan cepat datang, belum lagi petugas polisi di setiap sudut kota, dimana mereka sudah memonitor pergerakan anak Presiden.

" Kita kemana non ?,' tanya Kapten Prapto lembut.
" Terserah om saja deh om, mutar - mutar saja, kalau nanti om suka daerahnya kita bisa turun, aku lagi mumet om. 

" Ohya, kalau boleh saya tahu kenapa ya Tut ?,' tanya Kapten Prapto lembut.
" Itu om Doni kok dipindah jauh ?,' Tuti ketus.

" Itu hal biasa Tut, tour of duty tour of area, untuk keriernya ke depan.
" Saya tidak percaya om, ini pasti ada hubungannya dengan hubungan saya dengan Doni,' kata Tuti lagi.

" Sabar saja Tut, semua akan ada hikmahnya, kamu juga harus lihat siapa yang pantas jadi temanmu.
maksud om apa ?,' kejar Tuti.
" Iya maksudnya begitu, kamu anak Presiden masak berhubungan dengan prajurit paling bawah ?,' itu kan merusak image pak Presiden.

" Saya kan bukan Presiden om, saya cuma anak remaja seperti juga remaja lain yang sedang mencari arti cinta.
Kapten Prapto sabar mendengar semua curahan hati Tuti, dalam hatinya juga berharap kalau Tuti sedikit memalingkan hatinya ke Prapto, secara usia juga masih cocok jadi teman Tuti, dia alumni akademi militer umurnya masih muda walau pangkatnya sudah perwira pertama. Hari - hari yang sudah disetting oleh Pak Presiden agar Kapten Prapto lebih banyak waktu dekat - dekat dengan Tuti, karena bagi sang Presiden, Kapten Prapto tidak diragukan lagi menjadi pendamping Tuti. Cinta bisa tumbuh karena seringnya bertemu, benar saja akhirnya Tuti mampu juga melupakan Doni berkat kesabaran Prapto. 
Tahun - tahun pertama di perbatasan sangat berat bagi Doni, wajah Tuti tidak pernah lepas dari ingatannya. Tapi sebagai prajurit yang sudah terlatih menhadapi siatuasi sulit tidak membuat Doni lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, tugas di perbatasan sebenarnya lebih santai daripada tugas di istana yang sangat serius. Habis menjalankan tugas giliran jaga Doni bisa berkunjung ke tokoh - tokoh masyarakat, dan mendengar keluhan hati mereka tentang kekuasaan pusat yang semakin hari semakin tidak menentu. Presiden lebih sibuk membagi bagi kekuasaan dan lahan bisnis untuk kroni - kroni yang sudah setia mengawal kekuasaannya selama 20 tahun. Semua perangkat Undang - Undang dia manipulasi untuk memperpanjang kekuasaannya. Bagi - bagi itu membuat kekuasaanya awet. Tapi jumlah penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun, semakin banyak pula rakyat yang tidak kebagian uang dari kekuasaannya. Doni cukup cerdas untuk memahami semua itu. Di tambah kharisma dia membuat dia cepat menjadi tokoh yang di sukai rakyat. Hati dia sudah kehilangan rasa takut karena sudah tidak ada lagi wanita yang mampu mengisi hatinya. Lagian wanita mana lagi yang mampu menggantikan Tuti ? cerdas, cantik, anak Presiden yang sudah berkuasa selama 25 tahun.

Tidak ada pula tokoh yang berani menyatakan diri jadi calon Presiden karena akan membuat Presiden marah besar dan mengerahkan satu bataliyon intelijen uantuk membungkam orang yang berani menyatakan diri calon Presiden itu. Satu dua tokoh yang berani mencoba langsung jatuh ke sel penjara dengan tuduhan; menghina kepala negara. Doni sebagai prajurit rendahan tidak punya akses ke militer untuk melakukan kudeta, satu cara paling mudah adalah memohon untuk pensiun dini dan masuk partai politik. Benar saja, tidak lama Doni sudah menjadi anggota partai rakyat mandiri lawan politik dari partai berkuasa. 

Doni menjadi tokoh terdepan memprotes kebijkan Presiden dan kroni yang sarat korupsi, tokoh lain banyak setuju dengan Doni tapi tidak berani bicara, bahkan tokoh di kalangan istana pun banyak yang suka kepada aksi Doni. Diam - diam mereka meyakinkan pak Presiden untuk mengikuti kemauan Doni cs, karena sepertinya sudah saatnya Presiden berganti seperti pernah bapak katakan suatu saat kursi ini akan diduduki oleh orang lain. Bapak presiden yang juga bekas tentara tidak mudah digertak, apalagi sederet jenderal yang masih setia kepada dia, terutama jenderal Prapto menantunya yang kariernya sangat cepat menanjak melampaui rekan seangkatannya. Rekan seangkatannya yang suka menjilat dia akan mudah juga mendapat jabatan strategis. Dukungan untuk Doni semakin banyak, dia tidak takut dibunuh karena sejak dipisahkan dengan Tuti dia sudah merasa mati, dia tidak takut dipenjara, karena itu akan membuat dukungan kepadanya semakin banyak. Kalau tidak ada masalah lain, dia akan jadi Presiden hasil revolusi rakyat. 

Presiden berkuasa tidak kalah lihai dengan mengundang Doni ke istana, bicara empat mata, kamu mau jadi menteri Don ? 

" Tidak pak,' jawab Doni, 
" Terus kamu mau jadi apa ?,' Presiden.

" Saya tidak ingin apa - apa pak, karena sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya sudah bapak ambil dengan paksa,' Doni.
" Apa itu ?,' kejar Presiden.

" Cinta pak, Tuti adalah alasan saya untuk semua ini, 
" Tapi dia sudah menikah, kamu mau bagaimana lagi ? apa kamu mau ajak dia bercerai dari suaminya ?,' Presiden.

" Tidak mungkin juga pak, dia sudah bahagia dengan Jenderal Prapto,' Doni.
" Jadi kamu mau keukeuh menyerang saya ?,' Presiden.

" Sebenarnya bukan menyerang bapak saja, tapi seluruh budaya bobrok yang bapak ciptakan ini, jajaran bapak banyak yang mendukung saya, yang artinya mereka setuju dengan saya, tapi karena takut sama bapak, mereka diam, akan halnya saya ? sudah lama bapak bunuh saya tidak lagi bisa membedakan hidup atau mati, cinta bagi saya adalah nafas hidup tanpa cinta saya seperti mati, mungkin bapak tidak begitu, bapak lebih mencintai kekuasaan dan harta daripada cinta,' pungkas Doni.
" Kamu salah besar anak muda, saya melakukan ini semua demi cinta, semua ini terjadi karena restu dari istri saya tercinta yang tidak mau hidup sebagai rakyat biasa, sebagai kekasih hatinya saya siap melakukan apa saja asal dia bahagia,' Presiden. 
" Bahkan membunuh jutaan orang ?,' tanya Doni.

" Iya akan saya lakukan, apa bedanya dengan kamu yang mengorbankan banyak orang demi cinta ? 
" Orang yang mana yang saya korbankan pak ?,' Doni.

" Kamu belum lihat saja kalau semua pengikutmu saya bantai seperti dulu, bukankah mereka juga akan mati karena cintamu ?,' Presiden. Sekarang terserah kamu saja, mau kita terus berperang atau menunggu saya mati dan letakkan kekuasaan, apa kamu kira yang menggantikan saya tidak akan melaukan hal yang sama ? bahkan kalau kamu yang jadi Presiden, siapa yang bisa menjamin kamu tidak melakukan hal sama ?,' Presiden.
" Saya tidak akan melakukan itu pak,' Doni.

" Tapi para pedukungmu akan meminta melakukan itu, kalau kamu tidak mau mereka akan menarik dukungannya, kamu akan ditinggal sendiri dan; jatuh, jatuh oleh gerakan mereka di luar sana,' Presiden.
" Biarlah saya jatuh demi sebuah prinsip pak,  sejarah yang akan mencatat apa yang saya lakukan,' Doni.

" Saya akrab dengan istilah kamu itu, itu seperti pendahulu saya yang jatuh karena sebuah prinsip, padahal saya sendiri sangat takut kalau saat itu dia pakai cara seperti yang saya pakai : perang saudara yang berdarah darah. Bisa saja saya kalah waktu itu, karena loyalisnya juga masih sangat banyak. Tapi dia lebih memilih jatuh, daripada perang saudara dengan saya, saya juga bersyukur tidak ada letusan senjata diantara kita,' Presiden. 
" Saya mau pamit pulang pak, sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bahas, ' kata Doni.

" Baiklah kalau begitu, kamu ada uang ? kalau tidak ada minta saja sama Gungun,' Presiden.
" Baik pak,' sahut Doni.

Satuan intelijen sudah diarahkan untuk menculik Doni dalam perjalan pulang dari istana, tapi anehnya sampai Doni tiba di rumah tidak ada upaya penculikan kepada dirinya, tidak jaug beda dengan perintah Presiden kepada Jaksa Agung untuk menangkap Doni, tidak dilaksanakan oleh Jaksa Agung, setali tiga uang dengan Kepala Polisi yangmendapat perintah menangkap Doni pun tidak terlaksana, pejabat pilihan Presiden memang orang - orang tidak berkarakter, yang begitu mudah digertak oleh Doni cs, " kami akan menang kamu akan masuk penjara, mereka ciut, kenapa Presiden memilih orang - orang model ini ? karena Presiden juga takut di kudeta oleh orang - orang di sekitar dia.

" Tut ! kamu ke ruangan bapak sebentar kata Jenderal Prapto, beliau mau bicara,' Jenderal Prapto menemui Tuti. 
" Papa mau kemana ? saya ada tugas dari bapak menemui para Jenderal,' Jenderal Prapto.

" Malam pa,' sapa Tuti di ruang kerja Presiden.
" malam nak, duduk,' perintah Presiden kepada Tuti,

Keadaan genting begini papa masih saja bisa senyum, ada apa sih pa, panggil saya ?,' Tuti.



" Kamu anak papa yang paling tidak perduli kepada politik, tapi saat ini kamu adalah faktor yang menentukan keadaan poltik negara.
" Maksud papa ?,' kejar Tuti.

" Itu ketua pergerakan revolusi, si Doni bekas pacar kamu, dia melakukan ini semua karena kamu katanya,' Presiden.
" Masak sih pa ? sudah puluhan tahun dia masih menyimpan perasaan itu ?

" Itu kata dia sewaktu berbicara sama papa,' Presiden.
" Terus maksud papa bagaimana ? apa saya perlu bicara sam dia ?,' Tuti.

" Barangkali ada gunanya cobalah bicara sama dia. Tapi papa juga tidak bisa bertanggung jawab kalau nantinya Prapto cemburu,' Presiden.

" Kalau urusan poltik mas Parpto maklum saja sih pa, apalagi dia tahu ini permintaan papa,' Tuti.
" Itu dia nak, papa tidak berani meminta kamu, dan tidak berani bertanggung jawab kalau Prapto marah. Karena kemungkinannya hanya dua; dia ikut perkataanmu atau kamu yang ikut perkataan dia ?,' Presiden.

" Baiklah pa, saya terima semua resiko kalau itu berguna buat papa dan keluarga kita,' Tuti.

Di kolam indah itu di isi oleh angsa puth yang indah, di tepi kolam kedua insan yag pernah saling mencintai bertemu kembali,

" maafkan aku mas dulu tidak bisa bersikap apa - apa.
sudah terlambat Tut, aku sudah patah hati entah kapan bisa kembali. kamu masih cantik saja Tut, tidak termakan usia, itu karena vitamin dari uang rakyat ya ?
ah kamu mas, aku tidak pernah ikut politik, aku tidak bertanggung jawab atas semua kebijakan papa.
terus kedatanganmu hari ini bukan poltik ?
mungkin sekali ini, iya mas. kamu juga tidak tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat itu, mas Prapto yang sabar menemani aku saat - saat kelam itu.
bagaimana dia ? baik mas, dia sayang anak - anak, dia loyak kepada papa. dia tidak akan berani cemburu kepada kita kalau tahu ini perintah politik dari papa.
oh orang gila kekuasaan juga sama kayak papa kamu.

kenapa kamu tidak terima jabatan menteri dari papa mas ?
sebenarnya dengan jabatan menteri semua cita - citaku sudah sampai Tut, aku tidak mungkin jadi jenderal tapi jadi menteri saya kira sudah jadi jenderal, tapi semua itu tidak ada artinya kalau kamu tidak disampingku Tut. 
loh kok begitu mas ? 
itulah kenyataannya Tut, semua hambar tanpa kamu, justru saya berani melawan papa kamu karena itu, karena saya sudah merasa mati. Lagipula kasihan pengikut saya kalau saya menerima jabatan menteri. dan mau ikut papa kamu. 
tapi semua kan bisa diatur mas, kita bisa bangun citra politik yang selaras antara kalian dan papaku.
katanya kamu tidak mengerti politik Tut ? tapi kamu sudah seperti papa kamu bisa atur - atur semua.
mungkin ini juga karena cinta mas, saya tidak bisa memilih an kamu atau papa saya. kalau kamu menolak tawaran ini ? yang paling sakitadalah saya mas. kamu kalah saya akan menangis, papa kalah saya akan menangis.
rekonsisliasi ? bukan hal aneh, masuk akal kok. cobalah kamu bicarakan dengan papa kamu, tentang rekonsiliasi, papa kamu mau mendengar kami, kami pun sedikit melonggarkan syarat, demi negara dan bangsa ini, saya juga tidak mau papa kamu menembaki pengikut saya. Dia kan pernah melakukannya sewaktu naik ke kursi kepresidenan dulu. 
" papa sudah tua mungkin dia tidak sekeras dulu lagi.
Prapto pasti merasa risih dengan adanya saya di kabinet.
" biarlah itu jadi beban saya mas,' sahut Tuti. kamu juga lebih ganteng dengan pakai rambut begitu. 
ah kamu Tut, bisa aja menggoda saya kayak dulu aku masih bertugas di istana.
" aku ngomong apa adanya kok mas. Jujur dulu pertama kali nama kamu mencuat di media aku senang sekali bisa melihat kamu lagi. Aku juga senang ada yang berani menantang kesombongan papa. Tapi melihat gerakan kalian semakin banyak aku juga mulai khawatir akan kedudukan papa.